Menurut Sholikin, upaya pencegahan harus menjadi prioritas karena program MBG berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan dan kesehatan anak-anak sekolah.
Ia mengingatkan agar pengawasan tidak baru dilakukan setelah adanya laporan peserta didik mengalami gangguan kesehatan.
“Ini menyangkut kesehatan para murid di Bojonegoro. Seharusnya para pihak yang terkait dengan MBG ini punya sense of crisis dengan situasi yang terjadi saat ini. Jangan jika sudah terjadi baru melakukan tindakan,” pungkasnya.
Dewan Pendidikan Bojonegoro berharap, berbagai kasus kejadian dugaan keracunan yang dilaporkan di sejumlah daerah dapat menjadi pembelajaran bagi pelaksanaan MBG di Kabupaten Bojonegoro.
Sebelumnya, laporan dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG telah terjadi di sejumlah daerah, di antaranya Sidoarjo, Kabupaten Karo, Pati, dan Blora.
Di Bojonegoro sendiri, kejadian serupa pernah dilaporkan pada akhir 2025. Saat itu, sejumlah siswa dari beberapa sekolah disebut mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang disediakan melalui program MBG.
Komentari