HEADLINE

Kasus Tendangan Kungfu Fadly Alberto Hengga Berimbas Sanksi 3 Tahun, Klub Ajukan Banding

Fadly Alberto Hengga disanksi larangan bermain 3 tahun usai kasus tendangan kungfu di EPA 2025 kontra Dewa United

Mediabojonegoro.com – Upaya mencari rasa keadilan kini ditempuh manajemen Bhayangkara FC U-20 setelah tim muda mereka menerima rangkaian sanksi dari PSSI. Meski keputusan sudah ditetapkan, klub menilai masih ada hal yang perlu ditinjau ulang.

Pihak klub memastikan akan mengajukan banding atas putusan Komite Disiplin (Komdis). Langkah ini bukan bentuk penolakan, melainkan upaya meminta penilaian ulang agar hukuman yang dijatuhkan terasa lebih seimbang.

Manajer tim, Yongky Pamungkas, menyebut pihaknya tetap menghormati keputusan yang telah diambil. Namun, ia menilai durasi hukuman terhadap pemain perlu dikaji kembali secara lebih mendalam.

“Kami menghormati keputusan Komite Disiplin PSSI. Namun, ada beberapa hal yang menurut kami masih perlu dikaji ulang, khususnya terkait durasi sanksi,” ujarnya.

Kasus ini mencuat dalam ajang Elite Pro Academy (EPA) 2025/2026. Pada laga 19 April 2026 di Stadion Citarum, Semarang, terjadi insiden saat Bhayangkara FC U-20 menghadapi Dewa United U-20. Dalam pertandingan itu, Fadly Alberto Hengga melakukan tendangan kungfu ke arah Rakha Nurkholis hingga memicu keributan di lapangan.

Peristiwa tersebut langsung mendapat sorotan luas dan memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Komdis PSSI kemudian menjatuhkan sanksi tegas kepada sejumlah pihak yang terlibat.

Fadly Alberto Hengga menerima hukuman paling berat berupa larangan bermain selama tiga tahun. Tiga pemain lain, yakni Aqilah Lissunnah Aljundi, Afrizal Riqh, dan Ahmad Catur, masing-masing dijatuhi sanksi dua tahun. Sementara itu, Mufdi Iskandar mendapat larangan bermain selama satu tahun, dan ofisial Muklis Hadi Ning Saifulloh dilarang mendampingi tim dalam empat pertandingan.

Bagi klub, keputusan ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada proses pembinaan pemain muda. Mereka menilai ada situasi di lapangan yang layak dipertimbangkan lebih dalam sebelum sanksi dijatuhkan.

“Kami melihat ada fakta-fakta di lapangan yang perlu menjadi pertimbangan lebih dalam,” tambah Yongky.

Langkah banding menjadi penting karena menyangkut masa depan pemain yang masih berada dalam fase pengembangan. Di level usia muda, sanksi panjang dinilai tidak hanya menghentikan langkah sementara, tetapi juga bisa memengaruhi perkembangan karier mereka.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembinaan sepak bola usia muda bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga tentang sikap dan kontrol emosi di lapangan. Ketegasan aturan tetap diperlukan, namun ruang evaluasi dinilai penting agar keputusan yang diambil benar-benar seimbang.

Kini, proses banding akan menjadi penentu apakah sanksi tersebut tetap berlaku atau mengalami perubahan. Perhatian publik terhadap sanksi kasus tendangan kungfu Fadly Alberto Hengga pun diperkirakan masih akan terus berlanjut.

Posting Komentar