Buntut Tendangan Kungfu Fadly Alberto Hengga di Laga EPA U-20 Berujung Damai
![]() |
| Momen kesepakatan damai Bhayangkara FC U-20 dan Dewa United setelah insiden tendangan kungfu Fadly Alberto Hengga. |
Mediabojonegoro.com – Kericuhan yang terjadi pada laga EPA U-20 yang sempat menggegerkan sepak bola tanah air, kini berujung damai. Insiden yang melibatkan pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto, terhadap penggawa Dewa United U-20, Raka Nurholis, selesai setelah melalui jalur mediasi.
Kesepakatan tersebut dicapai setelah kedua kubu bermusyawarah. Bhayangkara FC U-20 mendatangi markas Dewa United sebagai bentuk itikad baik untuk meredam situasi yang sempat memanas.
Baca Juga: Tendangan Kungfu Fadly Alberto Hengga, Laga EPA U-20 Diwarnai Kericuhan
Direktur akademi Dewa United, Firman Utina, menyampaikan pertemuan tersebut berjalan lancar. Ia mengatakan, seluruh pihak telah sepakat untuk saling memaafkan dan mengakhiri persoalan ini tanpa membawa ke ranah hukum.
“Anak-anak ini tanggung jawab kita bersama. Tadi sudah saling memaafkan, dan semuanya sudah clear,” ujarnya.
Fadly Alberto juga hadir dalam musyawarah tersebut. Ia secara langsung menyampaikan permohonan maaf kepada Raka Nurholis, serta kepada seluruh jajaran tim Dewa United.
Dalam pernyataannya, Fadly mengakui tindakannya tidak mencerminkan sportivitas. Ia menyebut emosi yang tidak terkontrol menjadi penyebab utama insiden tersebut.
Baca Juga: Terkuak! Alasan Dibalik Tendangan Kungfu Fadly Alberto Hengga saat Laga EPA U-20 Kontra Dewa United
Kasus ini sebelumnya menjadi sorotan luas setelah video kejadian viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi pada laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 yang mempertemukan Bhayangkara FC kontra Dewa United. Seusai pertandingan, terjadi cekcok antar pemain yang kemudian berujung aksi tendangan keras.
Banyak pihak mendesak adanya sanksi tegas atas tindakan tersebut, mengingat Fadly Alberto merupakan pemain yang pernah merumput bersama Timnas.
Bahkan, manajemen Dewa United sempat mempertimbangkan jalur hukum. Namun, pihaknya lebih memilih menyelesaikan persoalan ini secara damai.
Menurut Firman, kejadian ini menjadi bahan evaluasi bersama, khususnya dalam membina pemain usia muda agar tidak hanya fokus pada pengembangan fisik dan skill, tetapi juga kontrol emosi di lapangan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa dalam sepak bola usia muda, pembelajaran tidak hanya datang dari kemenangan atau kekalahan. Justru dari insiden seperti inilah, nilai sportivitas dan kedewasaan diuji dan dibentuk.
