Tragedi di Kedungadem Jadi Pengingat, Embung Bukan Tempat Aman untuk Aktivitas Anak
![]() |
| Petugas dan warga berada di rumah duka remaja yang meninggal akibat tenggelam di embung Kedungadem. |
Mediabojonegoro.com – Peristiwa tragis yang menimpa seorang remaja di Kedungadem menjadi pengingat penting bagi keluarga dan masyarakat mengenai risiko aktivitas anak di perairan terbuka. Embung, yang berfungsi sebagai penampung air, sejatinya bukanlah tempat aman untuk bermain atau mandi tanpa pengawasan orang dewasa.
Korban, Andra Hanan (13), warga Desa/Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, meninggal dunia setelah tenggelam saat mandi bersama dua temannya di embung Desa Tumbrasanom, Sabtu (10/1/2026). Insiden terjadi sekitar pukul 14.10 WIB, ketika Andra tiba-tiba hilang dari permukaan air. Dua temannya segera berteriak meminta bantuan kepada warga di sekitar lokasi.
Warga yang mendengar teriakan langsung melakukan pencarian. Sekitar pukul 14.30 WIB, tubuh korban berhasil ditemukan. Sayangnya, saat dievakuasi, Andra sudah tidak bernyawa.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bojonegoro, Agus Purnomo, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan laporan resmi diterima BPBD pada pukul 15.00 WIB, setelah warga lebih dulu mengevakuasi korban.
“Personel BPBD bergerak ke lokasi pukul 15.52 WIB dan tiba sekitar pukul 16.40 WIB. Kami melakukan asesmen kejadian serta memberikan pendampingan kepada keluarga korban,” jelas Agus.
BPBD juga menyalurkan bantuan berupa dua paket sembako kepada keluarga sebagai bentuk kepedulian. Agus menegaskan bahwa embung memiliki fungsi utama sebagai infrastruktur pengairan, bukan fasilitas publik untuk aktivitas bermain air.
“Bahaya di perairan terbuka sering kali tidak terlihat. Anak-anak harus selalu didampingi orang tua,” tambahnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan anak di fasilitas ruang publik tidak hanya bergantung pada respons darurat, tetapi juga pada langkah pencegahan sejak dini. Pengawasan orang tua dan kesadaran lingkungan sekitar sangat penting untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.
Selain itu, orang tua dan masyarakat diimbau agar menjelaskan kepada anak-anak mengenai risiko bermain di embung, sungai, atau waduk, serta menekankan pentingnya selalu ditemani saat berada di sekitar perairan terbuka.
Kejadian ini diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat Bojonegoro untuk memperkuat budaya keselamatan anak, terutama di lingkungan yang dekat dengan sumber air. Pencegahan, edukasi, dan kepedulian kolektif menjadi fondasi utama agar embung dan fasilitas serupa tidak kembali menelan korban.
