HEADLINE

Meski Dana Bagi Hasil SDA Bojonegoro Naik Turun, Pembangunan Tetap Digenjot

Grafik pendapatan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (DBH SDA) Kabupaten Bojonegoro periode 2020–2025 menunjukkan tren naik turun, dengan puncak pada 2023 sebelum menurun pada 2024 dan 2025. Foto: Pemkab Bojonegoro.

Mediabojonegoro.com – Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (DBH SDA) menjadi salah satu penopang penting bagi pembangunan di Kabupaten Bojonegoro. Dana ini tidak hanya sekadar angka dalam laporan anggaran, tetapi punya peran nyata dalam mendukung berbagai program yang langsung dirasakan masyarakat.

Sebagai daerah penghasil energi, Bojonegoro menerima Dana Bagi Hasil dari berbagai sektor. Mulai dari minyak dan gas bumi (migas), panas bumi, mineral dan batubara, kehutanan, hingga perikanan. Dengan sumber yang beragam ini, Bojonegoro termasuk daerah yang berkontribusi besar terhadap penerimaan negara.

Namun, besaran Dana Bagi Hasil SDA tidak selalu sama setiap tahun. Nilainya bisa naik turun, mengikuti kondisi sektor energi yang memang sangat dipengaruhi oleh banyak faktor.

Tren Dana Bagi Hasil SDA Bojonegoro 2020–2026

Data Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Bojonegoro menunjukkan, penerimaan Dana Bagi Hasil SDA dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan yang cukup dinamis.

Pada 2020, realisasinya tercatat sekitar Rp 1,101 triliun. Angka ini kemudian naik signifikan pada 2021 menjadi Rp 2,136 triliun, dan kembali meningkat pada 2022 menjadi Rp 2,418 triliun. Puncaknya terjadi pada 2023 dengan nilai Rp 2,468 triliun.

Setelah itu, angkanya mulai menyesuaikan. Pada 2024 tercatat Rp 1,998 triliun, lalu pada 2025 menjadi Rp 1,947 triliun. Sementara untuk tahun 2026, alokasi yang diterima Bojonegoro ditetapkan sebesar Rp 942 miliar.

Kepala Bapenda Kabupaten Bojonegoro, Yusnita Liasari, menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan hal yang wajar. Perubahan nilai Dana Bagi Hasil dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti harga minyak dunia atau Indonesian Crude Price (ICP), volume produksi migas, hingga kebijakan penyaluran dari pemerintah pusat.

“Karena sektor energi sangat dipengaruhi banyak faktor, maka nilainya bisa berubah. Yang penting, pengelolaannya harus tepat agar manfaatnya tetap dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Pembangunan Tetap Digenjot Meski Pendapatan Berubah

Perubahan pendapatan dari Dana Bagi Hasil SDA menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. Karena itu, Pemkab Bojonegoro terus berupaya melakukan penyesuaian agar pembangunan tetap berjalan.

Dana tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan penting. Di antaranya pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan, peningkatan konektivitas antarwilayah, program beasiswa pendidikan, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga mulai mendorong penguatan sektor di luar migas. Langkah ini dilakukan agar perekonomian daerah tidak hanya bergantung pada satu sumber, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.

Dengan pengelolaan yang terarah, Dana Bagi Hasil SDA tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga alat untuk mendorong pembangunan yang lebih merata.

Meski nilainya naik turun, Bojonegoro tetap mampu menjaga perannya sebagai daerah penghasil energi sekaligus memastikan pembangunan terus berjalan dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Posting Komentar