HEADLINE

5 Cagar Alam Bojonegoro Jadi Fondasi Geopark Menuju Pengakuan UNESCO

Petroleum System Wonocolo di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, merupakan salah satu cagar alam geologi penopang Geopark Nasional Bojonegoro.

Mediabojonegoro.com – Upaya Kabupaten Bojonegoro meraih pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) terus dilakukan. Pengajuan tersebut tidak bertumpu pada satu lokasi, melainkan pada lima kawasan cagar alam geologi yang menjadi fondasi utama Geopark Nasional Bojonegoro.

Kelima kawasan ini telah ditetapkan pemerintah pusat sebagai cagar alam geologi dan dinilai memiliki nilai ilmiah, edukasi, serta potensi pengembangan ekonomi berbasis masyarakat.

Penguatan pengajuan geopark dilakukan melalui rapat koordinasi dan peninjauan lapangan penyusunan dossier UGGp yang melibatkan Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) bersama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pada November 2025.

Secara hukum, penetapan kawasan tersebut mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 55.K/HK.02/MEM.G/2021, yang menetapkan lima situs utama sebagai satu kesatuan narasi geologi Bojonegoro.

5 Cagar Alam Geologi Penopang Geopark

Lima kawasan cagar alam geologi yang menjadi pilar Geopark Nasional Bojonegoro tersebar di sejumlah wilayah dan merepresentasikan proses pembentukan bumi dalam kurun waktu jutaan tahun.

Kelima situs tersebut meliputi:

  1. Petroleum System Wonocolo di Kecamatan Kedewan
  2. Struktur Antiklin Kawengan di Kecamatan Kedewan
  3. Kayangan Api di Kecamatan Ngasem
  4. Kedung Lantung di Kecamatan Sugihwaras
  5. Situs Fosil Gigi Hiu Purba di Kecamatan Temayang

Masing-masing lokasi memiliki karakteristik unik, mulai dari sistem minyak bumi alami, struktur lipatan batuan, hingga bukti kehidupan purba. Keseluruhan situs ini membentuk satu alur cerita geologi yang saling terhubung.

Dalam peninjauan lapangan, tim KNGI mengawali kunjungan dari Kedung Lantung. Kawasan ini dikenal dengan bentang alam sungai yang diapit tebing kapur putih serta fenomena rembesan minyak bumi alami dari celah bebatuan.

Anggota KNGI, Mega Fatimah Rosana, menilai tema petroleum system yang diangkat Bojonegoro memiliki daya saing kuat di tingkat global.

“Fenomena minyak bumi alami seperti ini tidak banyak ditemukan. Ini bisa menjadi kekuatan utama Geopark Bojonegoro,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penyajian informasi yang mudah dipahami di setiap situs, agar geopark tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga sarana edukasi kebumian.

Upaya tersebut mulai dilakukan melalui penyediaan fasilitas edukasi, salah satunya Gedung Pusat Informasi Geologi (PIG) Geopark Bojonegoro sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat dan pengunjung.

Menurut Kepala Bappeda Bojonegoro, Achmad Gunawan Ferdiansyah, tema “petroleum and gas system” dipilih karena sesuai dengan karakter wilayah Bojonegoro sebagai daerah penghasil migas.

Saat ini, Geopark Bojonegoro telah masuk dalam daftar Aspiring UNESCO Global Geopark bersama sejumlah geopark lain di Indonesia, yang tengah menjalani proses evaluasi menuju pengakuan resmi.

Pengembangan geopark diharapkan tidak hanya berfokus pada status internasional, tetapi juga mendorong pelestarian lingkungan dan peningkatan literasi kebumian masyarakat.

Di sisi lain, pengelolaan kawasan juga perlu dijaga agar aktivitas wisata tetap sejalan dengan prinsip konservasi.

Ke depan, selain memperkuat nilai edukasi dan konservasi, pengembangan geopark juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas di tingkat daerah.

Posting Komentar