5 Cagar Alam Bojonegoro Jadi Fondasi Geopark Menuju Pengakuan UNESCO
![]() |
| Petroleum System Wonocolo di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, merupakan salah satu cagar alam geologi penopang Geopark Nasional Bojonegoro. |
Mediabojonegoro.com – Cagar alam Bojonegoro kini menjadi pilar utama dalam upaya Kabupaten Bojonegoro meraih pengakuan dunia melalui UNESCO Global Geopark (UGGp). Lima kawasan cagar alam geologi yang telah ditetapkan pemerintah pusat dinilai memiliki keunikan dan nilai edukasi tinggi, sekaligus mencerminkan identitas Bojonegoro sebagai wilayah dengan sejarah panjang sistem minyak dan gas bumi.
Komitmen tersebut kembali diperkuat melalui rapat koordinasi dan peninjauan lapangan dalam rangka penyusunan dossier pengajuan UGGp Geopark Nasional Bojonegoro, yang digelar Rabu, 12 November 2025. Kegiatan ini melibatkan Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Secara hukum, kawasan cagar alam Bojonegoro telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 55.K/HK.02/MEM.G/2021 tentang Penetapan Kawasan Cagar Alam Geologi Kabupaten Bojonegoro. Melalui keputusan ini, pemerintah menetapkan lima lokasi utama yang menjadi fondasi pengembangan Geopark Nasional Bojonegoro.
5 Cagar Alam Bojonegoro yang Menjadi Pilar Geopark
Lima kawasan cagar alam geologi di Bojonegoro telah ditetapkan sebagai fondasi pengembangan Geopark Nasional Bojonegoro. Kelima situs tersebut tersebar di sejumlah kecamatan dan merepresentasikan kekayaan geologi yang terbentuk melalui proses alam dalam kurun waktu jutaan tahun, meliputi:
1. Petroleum System Wonocolo, Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan
2. Struktur Antiklin Kawengan, Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan
3. Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem
4. Kedung Lantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras
5. Fosil Purba Gigi Hiu, Desa Buntalan, Kecamatan Temayang
Seluruh cagar alam Bojonegoro tersebut menyimpan rekam jejak proses geologi yang saling berkaitan, mulai dari sistem petroleum, struktur batuan, hingga temuan fosil purba yang memperkuat nilai ilmiah dan edukatif kawasan geopark.
Peninjauan lapangan oleh tim KNGI diawali dari situs Kedung Lantung, salah satu cagar alam Bojonegoro yang dinilai langka. Lokasi ini menampilkan aliran sungai yang diapit tebing kapur putih dengan panorama alami, sekaligus memperlihatkan fenomena rembesan minyak bumi mentah yang keluar secara alami dari celah bebatuan.
Anggota KNGI, Prof. Mega Fatimah Rosana, menilai fenomena tersebut menjadi keunggulan tersendiri bagi cagar alam geologi di Bojonegoro. Menurutnya, tema petroleum system yang diangkat memiliki daya saing kuat karena tidak banyak daerah yang mempunyai bukti sistem minyak bumi alami yang bisa dipelajari langsung di lapangan.
“Topik petroleum system ini sangat menarik. Kalau tambang sudah banyak, tetapi fenomena minyak bumi seperti ini belum banyak. Ini bisa menjadi kekuatan utama Geopark Bojonegoro,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya penyusunan panel interpretasi di setiap cagar alam Bojonegoro agar pengunjung dapat memahami keterkaitan cerita geologi antar lokasi. Dengan alur cerita yang jelas, geopark tidak hanya menjadi destinasi wisata alam, tetapi juga sarana edukasi kebumian.
Sementara itu, Kepala Bappeda Bojonegoro, Achmad Gunawan Ferdiansyah, menjelaskan bahwa sebaran situs cagar alam Bojonegoro hampir mencakup seluruh wilayah administratif kabupaten. Tema besar “Petroleum and Gas System” dipilih karena sesuai dengan karakteristik geologi Bojonegoro yang sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi.
Saat ini, Geopark Nasional Bojonegoro bersama Geopark Ranah Minang Silokek telah masuk dalam daftar Aspiring UNESCO Global Geopark, atau kandidat geopark yang sedang menjalani proses menuju pengakuan resmi UNESCO.
Lebih dari sekadar status internasional, pengembangan cagar alam Bojonegoro diharapkan mampu mendorong pelestarian lingkungan, edukasi publik, serta penguatan ekonomi masyarakat lokal. Namun demikian, pengelolaan kawasan perlu dibarengi perhatian pada aspek keselamatan dan konservasi agar aktivitas wisata tidak merusak nilai geologis yang dilindungi.
Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan, cagar alam Bojonegoro diharapkan menjadi contoh pengelolaan warisan bumi yang berkelanjutan, sekaligus kebanggaan daerah di kancah nasional maupun global.
