Reses di Kalitidu, DPRD Bojonegoro Soroti Pencegahan Pernikahan Dini untuk Tekan Kemiskinan
![]() |
| Anggota DPRD Bojonegoro Natasya Devianti saat reses di Desa Sembung, Kalitidu, menyoroti pencegahan pernikahan dini untuk menekan kemiskinan. |
Mediabojonegoro.com – Persoalan pernikahan usia dini masih menjadi pekerjaan rumah di sejumlah wilayah Bojonegoro. Hal ini mengemuka dalam kegiatan reses anggota DPRD Bojonegoro di Desa Sembung, Kecamatan Kalitidu, Sabtu (7/2/2026).
Anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan, Natasya Devianti, menilai praktik pernikahan dini tidak bisa dianggap sepele. Selain berdampak pada generasi, kondisi ini juga berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan keluarga.
Dalam dialog bersama warga, ia menemukan bahwa kasus pernikahan di usia muda masih terjadi. Umumnya, kondisi ini berkaitan dengan terbatasnya akses pendidikan dan belum siapnya pasangan dalam menghadapi dunia kerja.
“Kalau anak menikah terlalu dini, biasanya pendidikan terhenti dan belum punya kesiapan ekonomi. Ini yang kemudian bisa memicu masalah baru dalam keluarga,” jelasnya.
Ia menekankan, langkah pencegahan harus menyasar akar persoalan. Mulai dari pola pikir keluarga hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat. Peran orang tua menjadi kunci, terutama dalam memberikan pemahaman tentang pentingnya kesiapan usia sebelum menikah.
Untuk itu, pihaknya bersama dinas terkait terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat. Edukasi difokuskan agar orang tua lebih memahami dampak jangka panjang pernikahan dini terhadap kehidupan anak.
Selain pendekatan edukasi, muncul juga ide untuk memberi penghargaan kepada desa yang tidak mengeluarkan surat dispensasi nikah. Upaya ini diharapkan bisa mendorong pemerintah desa ikut aktif menekan angka pernikahan dini.
Menurut Natasya, desa memiliki peran penting karena sering menjadi pintu awal dalam proses administrasi pernikahan. Dengan komitmen yang kuat di tingkat desa, peluang terjadinya pernikahan dini bisa semakin ditekan.
Ia juga mengingatkan persoalan ini tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat agar upaya pencegahan membawa hasil nyata.
“Ini menyangkut masa depan generasi kita. Jadi perlu ditangani bersama,” pungkasnya.
