HEADLINE

Blok Cepu Tembus Posisi Teratas Produksi Minyak Nasional, Bojonegoro Ambil Peran Sentral

Fasilitas produksi Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang menjadi salah satu tulang punggung produksi minyak nasional dalam mendukung target lifting migas Indonesia.

Mediabojonegoro.com – Peran Kabupaten Bojonegoro dalam sektor minyak dan gas (migas) nasional semakin menguat. Melalui Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu, daerah ini kini menjadi kontributor utama produksi minyak nasional.

Data terbaru menunjukkan, produksi minyak dari Blok Cepu telah menempatkannya sebagai yang terbesar di Indonesia. Capaian ini bahkan melampaui Blok Rokan yang selama ini dikenal sebagai tulang punggung produksi migas nasional.

Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Anggono Mahendrawan, menyebut produksi Lapangan Banyu Urip saat ini berada di kisaran 170 ribu hingga 180 ribu barel per hari. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan produksi Blok Rokan yang berada di rentang 150 ribu hingga 160 ribu barel per hari.

Menurutnya, peningkatan produksi ini tidak lepas dari upaya optimalisasi lapangan yang sudah ada. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui program Banyu Urip Infill Clastic (BUIC) yang dijalankan oleh ExxonMobil Cepu Limited.

Program tersebut mencakup pengeboran tujuh sumur baru yang berhasil menambah produksi sekitar 30 ribu barel per hari.

“Untuk mempertahankan produksi, mau tidak mau kita optimalkan yang ada sekaligus mencari cadangan baru,” ujar Anggono saat menghadiri kegiatan di wilayah operasi Banyu Urip, Bojonegoro.

Secara regional, wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara menyumbang sekitar 250 ribu barel minyak per hari. Dari jumlah itu, sekitar seperempatnya berasal dari Blok Cepu. Hal ini menunjukkan posisi Bojonegoro tidak hanya sebagai daerah penghasil, tetapi juga penyangga penting pasokan energi nasional.

Di tingkat nasional, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa lifting minyak Indonesia pada 2025 mencapai rata-rata 605,3 ribu barel per hari atau 100,05 persen dari target APBN sebesar 605 ribu barel per hari.

Capaian tersebut menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir target lifting minyak nasional berhasil terpenuhi.

Meski demikian, kinerja produksi belum sepenuhnya sejalan dengan penerimaan negara. Realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) subsektor migas tercatat Rp105,04 triliun atau sekitar 83,7 persen dari target. Kondisi ini dipengaruhi oleh harga minyak mentah Indonesia yang berada di bawah asumsi APBN.

Sepanjang 2025, harga minyak dunia rata-rata berada di kisaran USD68 per barel, lebih rendah dari asumsi awal sebesar USD82 per barel.

Namun secara keseluruhan, sektor energi tetap mencatat kinerja positif. Total PNBP Kementerian ESDM mencapai Rp138,37 triliun atau melampaui target yang ditetapkan.

Bagi Bojonegoro, capaian ini tidak hanya soal angka produksi. Besarnya kontribusi Blok Cepu menempatkan daerah ini pada posisi strategis dalam peta energi nasional.

Di sisi lain, kondisi tersebut juga membuka peluang sekaligus tantangan, terutama dalam memastikan bahwa manfaat ekonomi dari sektor migas dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat daerah.

Ke depan, selain menjaga stabilitas produksi dan memperkuat pengelolaan, pemerataan manfaat menjadi hal penting agar peran besar Bojonegoro di sektor energi sejalan dengan peningkatan kesejahteraan warganya.

Posting Komentar