HEADLINE

KOLEGA, Program Lele Keluarga Perkuat Ekonomi Rumah Tangga di Bojonegoro

Warga Bojonegoro mengelola kolam lele keluarga dalam program KOLEGA untuk mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan ekonomi rumah tangga. (Ilustrasi)

Mediabojonegoro.com – Bojonegoro tak lagi memandang ketahanan pangan sebagai urusan sawah dan menanam padi semata. Di banyak sudut permukiman, kebijakan pangan kini justru tumbuh dari halaman rumah warga. Kolam-kolam lele skala keluarga menjadi bagian dari strategi daerah untuk memperkuat gizi, pendapatan, sekaligus kemandirian ekonomi rumah tangga.

Program Kolam Lele Keluarga (KOLEGA) yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bagaimana intervensi kebijakan bisa diarahkan langsung ke unit terkecil masyarakat. Pendekatan ini menempatkan keluarga bukan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai pelaku aktif produksi pangan berbasis rumah tangga.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro, M. Cholilur Rohman, menilai skema KOLEGA dirancang untuk menjawab dua tantangan sekaligus, yakni akses protein hewani dan peluang usaha mikro di sektor perikanan. Karena itu, bantuan yang diberikan tidak bersifat parsial, melainkan satu paket budidaya yang siap dijalankan.

“Konsepnya sederhana tapi strategis. Keluarga bisa langsung memulai budidaya tanpa harus menanggung biaya awal yang berat,” ujar Cholil saat dikonfirmasi.

Dampak program KOLEGA juga mulai dirasakan langsung di tingkat rumah tangga, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan keluarga dan tambahan pendapatan sederhana dari hasil budidaya.

“Sejak ada kolam lele di rumah, kebutuhan lauk keluarga lebih terjamin. Kalau panen berlebih, bisa dijual untuk nambah uang belanja,” kata Sutrisno, warga Kecamatan Dander, salah satu penerima program KOLEGA saat dikonfirmasi Mediabojonegoro.com, Senin (2/2/2026).

Pengalaman pelaksanaan KOLEGA pada 2025 menjadi fondasi penting. Tahun lalu, ratusan keluarga penerima manfaat merasakan langsung dampak program ini dengan berbagai model kolam, mulai dari buis beton hingga kolam terpal bundar. Model tersebut disesuaikan dengan kondisi lahan, sumber air, dan kesiapan teknis masing-masing rumah tangga.

Pendekatan diferensiasi ini dinilai penting agar bantuan tidak berhenti sebagai aset fisik semata. Penyuluh perikanan diterjunkan untuk mendampingi proses budidaya, mulai dari penebaran benih hingga panen. Pendampingan juga didahului dengan bimbingan teknis yang melibatkan perguruan tinggi dan pelaku usaha perikanan lokal.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar panen ikan, tetapi pemahaman budidaya yang benar. Kalau teknisnya dikuasai, hasil panen bisa optimal dan berkelanjutan,” jelas Cholil.

Data Disnakkan mencatat, pada 2025 program KOLEGA menjangkau 414 keluarga penerima manfaat dengan skema bantuan yang bervariasi. Kolam buis beton disalurkan kepada 134 KPM, sementara kolam terpal bundar menjangkau 280 KPM melalui dua sumber pendanaan berbeda, yakni Insentif Fiskal dan APBD Bojonegoro. Perbedaan komposisi paket bantuan disesuaikan dengan kebutuhan teknis di lapangan.

Keberlanjutan program menjadi penekanan utama pada 2026. Pemerintah daerah kembali merencanakan penyaluran KOLEGA kepada 335 KPM dengan pembagian dua kategori besar, yaitu kolam buis beton dan kolam terpal bundar. Skema ini tidak hanya mempertahankan jumlah penerima, tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi melalui penyesuaian jumlah kolam, benih, dan pakan.

Untuk KOLEGA buis beton, bantuan direncanakan menyasar 135 KPM dengan spesifikasi kolam dan sarana produksi yang disederhanakan namun tetap fungsional. Sementara itu, KOLEGA kolam terpal bundar akan menjangkau 200 KPM dengan jumlah unit kolam dan benih yang lebih besar, membuka peluang skala produksi yang lebih luas.

Cholil menegaskan, KOLEGA diposisikan sebagai instrumen kebijakan jangka menengah dalam mendukung ketahanan pangan daerah. Dengan basis rumah tangga, program ini diharapkan mampu memperkuat konsumsi protein keluarga sekaligus membuka ruang usaha produktif yang realistis dan mudah diakses.

“Harapannya, kolam lele di rumah tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur, tapi juga menjadi sumber penghasilan tambahan yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Di tengah fluktuasi harga pangan dan tantangan ekonomi keluarga, KOLEGA menjadi contoh bagaimana kebijakan publik dapat diterjemahkan ke dalam solusi konkret di tingkat rumah tangga. Dari kolam sederhana di pekarangan, Bojonegoro sedang membangun ketahanan pangan dari bawah.

Posting Komentar