Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Produksi Rendah, Peluang Usaha Telur Puyuh di Bojonegoro Terbuka Lebar

Mediabojonegoro.com - Telur puyuh dikenal sebagai sumber protein hewani yang praktis, bergizi, dan mudah diolah. Bentuknya kecil, rasanya gurih, dan harganya relatif terjangkau sehingga digemari berbagai kalangan. Mulai dari rumah tangga, warung makan, hingga industri katering, semua membutuhkan pasokan telur puyuh dalam jumlah stabil.

Data resmi menunjukkan, potensi pasar ini tidak main-main. Kementerian Pertanian (2023) mencatat produksi telur puyuh nasional pada 2022 mencapai 22.015 ton. Jawa Timur menyumbang sekitar 5.370 ton, hampir seperempat total produksi Indonesia. Dari angka tersebut, Kabupaten Bojonegoro baru menghasilkan 30,4 ton, masih jauh lebih kecil dibandingkan daerah sentra lain. Artinya, ruang pertumbuhan bagi peternak lokal di Bojonegoro masih sangat luas.

Potensi Pasar Telur Puyuh di Bojonegoro

Meskipun produksi telur puyuh Bojonegoro baru mencapai 30,4 ton per tahun, kebutuhan pasar di tingkat Jawa Timur jauh lebih besar, yakni sekitar 5.370 ton. Artinya, kontribusi Bojonegoro masih di bawah 1% dari total kebutuhan provinsi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar lokal maupun regional masih sangat terbuka bagi pelaku usaha baru.

Selain itu, tren konsumsi telur puyuh juga terus meningkat. Produk ini tidak hanya dipasarkan ke warung makan dan katering, tetapi juga mulai masuk industri makanan ringan hingga produk olahan modern. Jika peternak Bojonegoro mampu meningkatkan skala produksi, peluang untuk menjadi pemasok utama di pasar lokal maupun ekspansi ke kota lain di Jawa Timur sangat besar.

Melihat fakta ini, jelas bahwa usaha telur puyuh bisa menjadi peluang menjanjikan bagi pelaku UMKM di Bojonegoro. Namun, potensi besar tidak akan berarti jika tidak diikuti dengan strategi yang tepat. Agar usaha bisa berjalan konsisten dan bertahan dalam jangka panjang, dibutuhkan perencanaan yang matang sejak tahap awal. Nah, untuk membantu para pelaku UMKM yang ingin terjun di bidang ini, berikut sejumlah strategi praktis yang bisa dijadikan panduan dalam memulai bisnis telur puyuh.

10 Strategi Jitu Memulai Bisnis Telur Puyuh

Memulai usaha telur puyuh memang terlihat sederhana, namun tetap membutuhkan persiapan matang. Mulai dari menyiapkan kandang hingga mengatur strategi penjualan, semua harus diperhitungkan sejak awal. Apalagi produksi lokal di Bojonegoro masih kecil dibanding kebutuhan pasar Jawa Timur, sehingga peluang untuk mengisi kekosongan tersebut terbuka lebar.

Berikut 10 tips praktis yang bisa menjadi panduan bagi siapa saja yang ingin memulai bisnis telur puyuh di Bojonegoro maupun daerah lain.

1. Mulai dari Pasar Terdekat

Pasar tradisional, warung makan, warung bakso dan katering di Bojonegoro selalu menjadi pintu pertama yang menyerap telur puyuh. Memulai dari lingkungan terdekat membuat distribusi lebih hemat dan membantu membangun kepercayaan konsumen.

2. Manfaatkan Celah Produksi Lokal

Dengan produksi yang baru mencapai 30,4 ton per tahun, Bojonegoro masih kekurangan pasokan dibanding kebutuhan Jawa Timur. Peluang ini bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha baru untuk menjadi pemasok utama di wilayah sendiri.

3. Urus Legalitas Usaha

Proses perizinan kini lebih sederhana melalui sistem OSS-RBA. Memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) akan memudahkan akses modal, membuka peluang kemitraan dengan koperasi, serta meningkatkan kredibilitas di mata konsumen.

4. Lengkapi Izin Produk Olahan

Bagi yang ingin mengembangkan bisnis ke produk olahan seperti abon atau keripik telur puyuh, izin PIRT wajib dimiliki. Dengan label resmi, produk akan lebih mudah masuk pasar modern dan dipercaya konsumen.

5. Perhatikan Kualitas Pakan

Kualitas pakan sangat memengaruhi kesehatan puyuh dan produktivitas telur. Mengacu pada SNI pakan anak puyuh, pakan yang konsisten akan menghasilkan telur dengan kualitas baik. Peternak juga bisa membeli secara kolektif untuk menekan biaya.

6. Hitung Skala Usaha dengan Tepat

Seekor puyuh dapat menghasilkan sekitar satu butir per hari dengan bobot 10 gram. Jika memelihara 1.000 ekor, hasilnya bisa mencapai 10 kilogram per hari atau sekitar 300 kilogram per bulan. Perhitungan sederhana ini menjadi dasar penting dalam menyusun rencana usaha.

7. Jaga Kualitas Telur

Telur yang bersih, tidak retak, dan disimpan dengan benar akan lebih cepat laku. Penyortiran rapi, penyimpanan di suhu sejuk, dan pengiriman tepat waktu membuat konsumen puas dan loyal.

8. Gunakan Skema KUR

Modal sering menjadi kendala utama. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga rendah hanya 6% per tahun sangat membantu untuk membiayai kandang, bibit, maupun kebutuhan pakan.

9. Pantau Data Resmi

Data dari BPS maupun Kementerian Pertanian bisa menjadi rujukan dalam membaca tren produksi, harga, dan permintaan pasar. Informasi yang valid akan membuat strategi usaha lebih tepat sasaran.

10. Perkuat Jejaring Lokal

Kemitraan dengan kelompok ternak, koperasi, atau UMKM kuliner di Bojonegoro akan memperluas pasar dan memperkuat posisi tawar. Jejaring juga membantu menekan biaya, misalnya melalui pembelian pakan secara kolektif atau distribusi bersama.

Studi Kasus: Sugeng, Peternak Telur Puyuh dari Bojonegoro

Sugeng (45), warga Desa Mojosari, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, mengaku tidak pernah menyangka akan menekuni usaha ternak puyuh. Pasalnya, ia yang kala itu sehari-hari bekerja serabutan sambil mengelola sawah miliknya, merasa sudah nyaman dan cukup dengan rutinitas tersebut. Hingga suatu ketika tepatnya di tahun 2022, ia yang saat itu mampir berkunjung ke rumah teman lamanya di Desa Sumber Agung yang berada di wilayah Kecamatan Dander, melihat bagaimana temannya bisa memperoleh penghasilan rutin dari penjualan telur puyuh. Dari pengalaman itulah muncul ketertarikan Pak Sugeng untuk mencoba usaha serupa.

Sesampainya dirumah, Pak Sugeng yang masih kepikiran dengan potensi bisnis telur puyuh, mulai berdiskusi dengan istrinya untuk memulai usaha tersebut. Namun di sisi lain, Pak Sugeng yang hanya bekerja serabutan mengaku belum punya cukup modal. Sudah mencoba pinjam ke tetangga, saudara dan sanak keluarga, namun usahanya tersebut tak membuahkan hasil, mengingat modal yang dibutuhkan terbilang cukup besar.

Beberapa bulan kemudian, Pak Sugeng yang tak kunjung mendapat pinjaman, nekat memberanikan diri mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp20 juta di salah satu bank di daerahnya. Berbekal sertifikat sawah yang dijadikan sebagai jaminan, tak lama kemudian Pak Sugeng pun mendapatkan modal tersebut. Menurutnya, dana tersebut ia gunakan untuk membangun kandang, membeli 500 ekor bibit puyuh, serta menyiapkan pakan awal.

"Kalau modal dulu sekitar Rp20 jutaan Mas. Saya buat bikin kandang, bibit puyuh 500 ekor sama pakannya. Nekat lah itu dulu pinjam KUR, sertifikat sawah buat jaminan. Mau gimana lagi nyari sana sini juga gak dapat. Gede kan soalnya," ungkap Pak Sugeng saat ditemui Mediabojonegoro.com di kandang miliknya, Selasa (26/8/2025) siang.

Awal-awal memulai usaha, Pak Sugeng mengaku puluhan ekor ternak puyuhnya mati. Hal itu disebabkan minimnya pengetahuan Pak Sugeng akan perawatan ternak puyuh. Mengetahui hal tersebut, Pak Sugeng pun kembali ke rumah temannya untuk menanyakan perihal perawatan burung puyuh.

"Dulu awal-awal usaha, banyak burung puyuh yang mati Mas. Soalnya masih pemula kan belum tahu cara perawatan puyuh. Akhirnya ya balik lagi ke rumah temen buat tanya-tanya," tambah Pak Sugeng.

Singkat cerita, setelah informasi di dapat, dan Pak Sugeng yang sudah mulai mahir tentang metode dan cara beternak puyuh, akhirnya bisa menikmati hasil jerih payahnya dua bulan pasca memulai usaha, yaitu ternak puyuhnya mulai besar dan bertelur. Menurutnya, ia pertama kali memasarkan telur puyuh di warung kopi, rumah makan, serta warung bakso yang ada di sekitaran tempat tinggalnya.

"Waktu itu mulai seneng Mas, puyuh sudah pada besar dan ada yang sudah bertelur. 2 bulanan mungkin waktunya. Langsung saya pasarkan di warung-warung kopi, rumah makan sama warung bakso deket sini," imbuhnya.

Ringkas cerita, kini di tahun 2025 atau setelah dua tahun usahanya berjalan, Pak Sugeng mengaku usahanya kian berkembang, yang mulanya 500 kini menjadi 1.500 ekor puyuh. Produksinya pun kini mencapai sekitar 20 kilogram telur per hari, yang dipasarkan di Bojonegoro kota hingga di beberapa wilayah di Kabupaten Tuban.

Tantangan terbesar memang ada pada harga pakan yang fluktuatif, namun Pak Sugeng mengatasinya dengan bergabung ke kelompok peternak untuk membeli pakan secara kolektif sehingga harga lebih murah.

"Alhamdulillah Mas puyuh-puyuhnya sekarang berkembang sekitar 1.500 ekor, yang dulunya cuma 500. Permintaan telur juga meningkat sekitar 20 kilogram per hari," tutup Pak Sugeng dengan penuh senyum ceria.

Bagi Pak Sugeng, beternak puyuh bukan lagi sekadar pilihan, melainkan jalan hidup baru yang mengubah perekonomian keluarganya. Keputusan berani meminjam modal lewat KUR terbukti tidak sia-sia, justru menjadi langkah penting menuju kemandirian.

Kisahnya menunjukkan bahwa dengan keberanian, kerja keras, dan kemauan belajar, peluang usaha di sektor pangan lokal masih sangat terbuka lebar. Apa yang diraih Pak Sugeng bisa menjadi inspirasi bagi UMKM lain di Bojonegoro untuk berani memulai dan mengisi kebutuhan pasar yang masih luas, khususnya dalam produksi telur puyuh yang permintaannya terus meningkat.


Tampak beberapa ekor burung puyuh dengan puluhan butir telur puyuh di kandang samping rumah Pak Sugeng.


Penutup: Saatnya UMKM Bojonegoro Naik Kelas

Angka-angka resmi menunjukkan betapa besar potensi telur puyuh di Bojonegoro. Produksi lokal masih jauh dari kebutuhan pasar, sementara permintaan terus tumbuh. Ditambah dengan kemudahan legalitas lewat OSS-RBA, akses modal melalui KUR berbunga rendah, serta dukungan data dari BPS dan Kementan, peluang ini semakin nyata.

Kisah Pak Sugeng di Kalitidu membuktikan, dengan perencanaan yang matang dan keberanian memulai, bisnis telur puyuh bisa menjadi jalan bagi UMKM Bojonegoro untuk naik kelas. Kini, tinggal siapa yang siap mengambil langkah pertama.

Posting Komentar untuk "Produksi Rendah, Peluang Usaha Telur Puyuh di Bojonegoro Terbuka Lebar"