Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Usaha Bubur Bayi di Bojonegoro Bikin Cuan! Strategi “3 Hari Berkah” yang Efektif

Diperbarui Minggu, 3 Agustus 2025.

Mediabojonegoro.com - Pagi hari selalu punya suasana yang berbeda. Udara masih segar, jalanan belum terlalu ramai, dan para ibu sudah sibuk mempersiapkan kebutuhan anak-anaknya. Nah, di momen inilah peluang usaha bisa tumbuh subur, terutama jika kamu jeli melihat kebutuhan sehari-hari keluarga muda, seperti sarapan untuk si kecil.

Salah satu ide yang cukup menjanjikan adalah jualan bubur bayi di pagi hari. Mungkin terdengar sederhana, tapi potensi cuannya? Jangan diremehkan. Nah, bagi kamu yang tertarik bisnis ini, berikut ini kami akan mengulas secara lengkap kenapa jualan bubur bayi bisa jadi peluang usaha yang unik, serta bagaimana cara memulainya agar bisa jadi sumber penghasilan harian yang stabil.

Kenapa Harus Bubur Bayi?

Pertama-tama, mari kita lihat dari sisi kebutuhan. Tidak semua orang tua punya waktu untuk memasak bubur bayi setiap pagi. Padahal, bayi butuh makanan yang segar, bergizi, dan teksturnya sesuai dengan tahapan usianya. Inilah celah pasar yang bisa kamu isi.

Selain itu, tren parenting modern menunjukkan bahwa banyak orang tua, terutama di kota besar atau kawasan urban, mulai mencari solusi praktis namun tetap sehat untuk kebutuhan makan anak mereka. Bubur bayi buatan rumahan yang dijual pagi hari bisa jadi solusi ideal.

Target Pasar yang Jelas dan Loyal

Usaha bubur bayi punya target pasar yang spesifik tapi loyal, yaitu para ibu yang memiliki bayi usia 6 bulan ke atas. Biasanya, setelah cocok dengan satu penjual atau resep bubur tertentu, mereka akan jadi langganan tetap. Ini artinya, kamu bisa membangun basis pelanggan yang stabil hanya dalam beberapa minggu berjualan.

Dan jangan salah, meskipun targetnya kecil (secara ukuran makanan), margin keuntungannya cukup besar, terutama jika kamu mengemas produk dengan baik dan punya nilai tambah seperti menu harian yang bervariasi atau sistem pre-order.

Waktu Jualan yang Fleksibel

Berjualan bubur bayi di pagi hari juga cocok banget buat kamu yang ingin punya aktivitas sampingan atau baru memulai usaha rumahan. Kamu bisa mulai masak dari subuh, jualan dari pukul 6 sampai jam 8 atau 9 pagi, dan selesai sebelum siang.

Ini cocok banget buat ibu rumah tangga, mahasiswa, atau siapa pun yang ingin menambah penghasilan tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama. Bahkan kalau usahanya sudah stabil, kamu bisa mempekerjakan orang lain untuk membantu operasionalnya.

Modal Kecil, Potensi Besar

Usaha ini bisa dimulai dengan modal yang relatif kecil. Peralatan seperti panci kukus, blender, sendok takar, serta bahan makanan segar bisa didapatkan dengan budget di bawah Rp1 juta. Tapi potensi penghasilannya bisa mencapai ratusan ribu per hari, tergantung jumlah porsi dan harga jual.

Misalnya, jika kamu menjual satu porsi bubur bayi seharga Rp5.000 dan bisa menjual 30 porsi per pagi, penghasilan kotornya sudah Rp150.000 per hari. Dalam sebulan bisa menyentuh Rp4.5 juta, belum termasuk pengembangan bisnis seperti jualan MPASI beku atau paket catering bayi.

Strategi Sukses Memulai Usaha Bubur Bayi

Memulai usaha memang butuh lebih dari sekadar niat, perlu strategi yang tepat agar usaha kecil bisa tumbuh besar. Begitu juga dengan jualan bubur bayi di pagi hari. Meski terdengar sederhana, bisnis ini punya tantangan tersendiri. Nah, biar kamu nggak cuma “coba-coba” tapi benar-benar melangkah dengan arah yang jelas, yuk simak beberapa strategi jitu berikut ini!

1. Riset Pasar

Mulailah dengan mengamati lingkungan sekitar. Adakah ibu-ibu muda dengan bayi di kompleks perumahanmu? Apakah ada PAUD, posyandu, atau klinik anak terdekat? Tempat-tempat ini bisa jadi lokasi jualan atau tempat kamu menyebar promosi.

2. Buat Menu yang Variatif

Jangan cuma andalkan bubur nasi polos. Variasikan menu dengan bahan alami seperti:

  • Bubur labu kuning
  • Bubur wortel dan ayam
  • Bubur bayam dan tahu
  • Bubur kacang hijau (untuk bayi di atas 8 bulan)
  • Gunakan bahan segar dan hindari pengawet. 
  • Tambahkan juga info usia yang cocok untuk setiap menu, ini akan membuat konsumen merasa lebih percaya.

3. Kemasan yang Higienis dan Menarik

Gunakan wadah food grade yang praktis, bisa sekali pakai atau bahkan wadah ramah lingkungan. Tempelkan stiker label berisi informasi nama bubur, tanggal produksi, dan kontakmu. Ini terlihat profesional dan membuat pelanggan mudah menghubungimu lagi.

4. Sistem Pre-Order & Langganan

Untuk menghindari makanan terbuang dan menyesuaikan jumlah produksi, terapkan sistem pre-order lewat WhatsApp atau media sosial. Kamu juga bisa menawarkan paket langganan mingguan atau bulanan dengan harga spesial.

5. Promosi di MedSos & Grup Ibu-Ibu

Manfaatkan grup WhatsApp RT, komunitas ibu-ibu di Facebook, atau akun Instagram untuk promosi. Unggah foto-foto bubur buatanmu yang menggugah selera dengan caption informatif dan menyentuh hati para orang tua.

Studi Kasus: Strategi 3 Hari Berkah ala Mbak Dina, Penjual Bubur Bayi dari Bojonegoro

Catatan Redaksi: Sebelum lanjut ke bagian narasi pendukung, perlu kami sampaikan bahwa kisah berikut benar-benar untuk tujuan inspirasi, bukan suatu promosi ataupun bentuk aktivitas lain yang berhubungan dengan iklan.

Salah satu contoh strategi penjualan yang unik dan inspiratif datang dari Mbak Dina, seorang warga Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, yang dikenal warga sebagai penjual bubur bayi organik di Kecamatan Balen.

Berbekal modal sekitar Rp1 jutaan, yang menurutnya ia gunakan untuk membuat rombong kecil berkonsep gerobak dorong berukuran mini, serta perlengkapan penunjang jualan lainnya, Mbak Dina mulai membuka lapak buburnya di 100 meter utara perempatan utama lampu merah Balen.

"Modal dulu sekitar kurang lebih Rp1 jutaan Mas, untuk buat rombong, perlengkapan sama bahan bubur," ungkap Mbak Dina saat ditemui Mediabojonegoro.com pada Minggu, 3 Agustus 2025 pagi, di lokasi lapak usahanya.

Rutinitas harian Mbak Dina dimulai sejak pukul 03.00 atau tepatnya setelah selesai sholat subuh, yang waktu itu ia gunakan untuk memasak bubur, membuat puding serta menyiapkan segala sesuatu untuk bekal jualannya.

"Sekitar pukul 03.00 Mas, mulai masak bubur sama nyiapin bekal buat jualan," terang Mbak Dina.

Setelah semua disiapkan, tepatnya pukul 05.30 WIB Mbak Dina beranjak menuju ke lokasi usahanya yang berjarak sekitar 10 Kilometer dari rumahnya, dan mulai membuka lapak buburnya sekitar pukul 06.00 hingga pukul 08.00 - 08.30 WIB. Meski dengan waktu terbatas itu, ia mengaku mampu menghabiskan stok bawaan bubur dagangannya.

"Berangkat dari rumah jam 05.30 Mas, ready jualan sekitar jam 06.00, tutup biasa jam 08.00 - 08.30. Alhamdulillah sih tiap hari habis," katanya.

Untuk menarik pelanggan baru sekaligus mempertahankan pelanggan lama, Mbak Dina mengaku menerapkan strategi khusus yang diberi nama 3 Hari Berkah, yakni setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, ia membagikan puding gratis kepada setiap pembeli buburnya. Strategi tersebut ia terapkan karena menurutnya persaingan usaha yang semakin ketat. Jadi mau tidak mau dirinya harus memutar cara supaya dagangan tetap jalan, lancar dan menguntungkan.

"Mungkin karena faktor persaingan ya Mas, jadi saya harus muter buat strategi," jelasnya.

Berkat strategi yang digunakan, Mbak Dina mengaku perolehan omzet hariannya berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp250 ribu dengan harga rata-rata Rp4000 ribu per buburnya. Atau jika di kalkulasikan, Mbak Dina mampu menjual sekitar 40 sampai 50 porsi bubur per hari.

"Kalau omzet ya mungkin sekitar Rp200 ribu sampai Rp250an ribu gitu lah, Mas. Bersyukur aja yang penting lancar," tutup Mbak Dina sembari mengemas barang dagangannya yang hendak tutup dan pulang.

Dari sepenggal kisah Mbak Dina membuktikan bahwa pendekatan yang menyentuh sisi emosional pelanggan bisa menjadi kekuatan besar dalam usaha kecil. Tanpa perlu promosi besar-besaran, strategi sederhana seperti memberi bonus rutin bisa menciptakan loyalitas pelanggan, pembeda usaha, dan bahkan mendorong pertumbuhan penjualan harian secara stabil.

Pelajaran yang Bisa Diambil dari Kisah Mbak Dina

Dari kisah sederhana Mbak Dina, kita bisa menarik beberapa pelajaran penting yang relevan bagi siapa saja yang ingin memulai usaha kecil dengan pendekatan cerdas, hemat, dan penuh kepedulian.

1. Gunakan Modal Kecil dengan Efisien

Mbak Dina memulai usahanya hanya dengan modal sekitar Rp1 jutaan, angka yang terbilang sangat rendah untuk memulai bisnis makanan. Namun, bukan besar kecilnya nominal yang menjadi penentu, melainkan bagaimana modal itu dialokasikan secara tepat.

Alih-alih membeli alat-alat mahal atau langsung menyewa tempat, ia memilih membuat rombong mini berkonsep gerobak dorong, cukup untuk mobilitas sekaligus hemat biaya.

2. Bangun Ciri Khas Lewat Strategi Sederhana

Di tengah persaingan penjual bubur bayi yang menjamur di wilayah perkotaan seperti Bojonegoro, Mbak Dina sadar bahwa harus ada sesuatu yang membedakan dirinya. Ia lalu menerapkan strategi unik bernama 3 Hari Berkah, di mana setiap Jumat hingga Minggu, pembeli akan mendapat puding bayi gratis.

Strategi sederhana ini tentu menciptakan ciri khas yang mudah diingat oleh pelanggan. Dalam usaha kecil, brand awareness tak selalu dibentuk melalui promosi, melainkan bisa tumbuh dari pengalaman langsung yang berkesan.

3. Jaga Konsistensi Produksi dan Jam Operasional

Kunci keberhasilan Mbak Dina bukan hanya pada strategi, tapi juga kedisiplinan dan konsistensi rutinitas. Ia memulai aktivitas pukul 03.00 WIB untuk memasak, lalu sudah siap jualan sejak pukul 06.00 hingga maksimal 08.30.

Rutinitas ini memungkinkan pelanggan untuk menyesuaikan kebiasaan belanjanya, karena mereka tahu persis kapan dan di mana Mbak Dina akan berjualan.

4. Sentuh Emosi, Bukan Sekadar Transaksi

Pemberian puding gratis bukan hanya sekadar bonus makanan, ia adalah wujud empati dan kepedulian kepada para ibu dan bayi yang menjadi pelanggannya. Strategi ini menyentuh ranah emosional, membuat pelanggan merasa diperhatikan dan dihargai, bukan hanya sekadar pembeli.

Dalam jangka panjang, hubungan emosional ini membentuk loyalitas pelanggan yang sulit dibeli dengan uang. Mereka datang bukan hanya karena produknya yang enak, tetapi juga karena merasa nyaman dan terhubung secara sosial.


Tampak lapak Mbak Dina, pedagang bubur bayi organik di Bojonegoro yang menerapkan strategi 3 Hari Berkah, dengan bonus puding gratis tiap Jumat-Minggu untuk menarik pelanggan.


Yuk, Coba Mulai dari Sekarang!

Bagi kamu yang sedang mencari ide usaha jualan bubur bayi di pagi hari, ini adalah momen yang tepat untuk memulai. Dengan niat yang tulus, resep yang sehat, dan pelayanan yang ramah, usaha kecil ini bisa tumbuh jadi sumber penghasilan yang luar biasa.

Ingat, setiap usaha besar selalu dimulai dari langkah kecil. Siapa tahu, dari dapur kecil di rumahmu, akan lahir brand MPASI lokal yang disukai banyak keluarga. Yuk, hangatkan pagi, bukan cuma dengan bubur, tapi juga dengan semangat membangun masa depan.

Posting Komentar untuk "Usaha Bubur Bayi di Bojonegoro Bikin Cuan! Strategi “3 Hari Berkah” yang Efektif"