Membayangkan Bojonegoro Tanpa DAK Pendidikan dan Jamkesda

0 368
Share :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

DAK Pendidikan

DAK Pendidikan

MediaBojonegoro.com - Saya baru sedikit memahami kenapa rakyat Bojonegoro pernah menjadi dua kabupaten termiskin di pulau Jawa sebelum Indonesia merdeka. Kenapa sejak merdeka tahun 1945 sampai tahun 2000 masih termiskin nomor 1 di Jawa Timur. Kenapa 10 tahun sejak reformasi rangking kemiskinan Bojonegoro di Jatim hanya turun di posisi nomor 3. Jawabannya ternyata karena semua program pembangunan sebelum 2008 tidak difokuskan pada masalah inti rakyat Bojonegoro.

Rakyat Bojonegoro miskin bukan karena malas, bukan juga karena bodoh. Rakyat Bojonegoro miskin karena sejak kecil dilatih menjadi petani tapi 98 persen tidak punya lahan yang cukup, bertani tapi lahannya kurang 0,5 hektar. Menurut BPS petani dengan lahan kurang 0,5 hektar itu otomatis miskin. Dikasih bantuan berapapun untuk menjadi mandiri tidak akan terwujud. Sekali lagi bukan karena malas dan bodoh tapi karena sawah ladangnya yang kurang. Ingat 44 persen lahan Kabupaten Bojonegoro adalah hutan, yang nota bene bukan milik rakyat. Semua Kabupaten yang sebagian besar wilayahnya hutan, rakyatnya hidup dalam kemiskinan.

Kehidupan petani kecil, petani gurem dan orang orang kota yang kerja di sektor informal, dari sisi pendapatan selalu beresiko. Sekali gagal panen dampaknya berkepanjangan. Sekali menghadapi pukulan pengeluaran karena sakit atau biaya pendidikan, maka rumah, sawah dan kambing atau sapinya bisa terjual. Banyak cerita tentang keluarga yang bangkrut dengan menjual apa yang dimiliki lantaran salah satu anggota keluarganya sakit. Jika si sakit tidak tertolong maka keluarga itu akan kehilangan anggota keluarga sekaligus asset, dampaknya keluarga itu jatuh bangkrut, langsung jadi orang miskin.

Kisah kisah seperti inilah yang disebut mata rantai kemiskinan orang Bojonegoro.

Suka tidak suka Kang Yoto-lah yang punya terobosan dan keberanian memotong mata rantai kemiskinan ini. Dua kebijakan Kang Yoto bukan hanya menyelamatkan keluarga wong cilik dari kebangkrutan tapi juga membuat ekonomi Bojonegoro terus menggeliat. Lewat kebijakan beasiswa pendidikan untuk anak anak yang sekolah SLTA dan Jamkesda bagi mereka yang kurang atau tidak mampu wong cilik tidak kehilangan asset produktifnya seperti sawah, sapi dan kambingnya. Kekayaan wong cilik tumbuh dan daya belinya tetap terjaga. Toko toko, pasar tradisional dan tempat tempat rekreasi rakyat masih terus dapat pengunjung, ekonomi berputar. Kang Yoto cukup berani membuat kebijakan ini karena hampir tidak ada Pemda manapun yang melakukan hal serupa. Seandainya Kang Yoto memilih di jalur nyaman berlindung dibalik aturan pusat dan propinsi tidak akan ada kebijakan yang pro wong cilik semacam ini. Hasilnya delapan tahun dipimpin Kang Yoto Bojonegoro keluar dari sebutan 10 besar Kabupaten termiskin di Jawa Timur.

Sekali lagi bayangkan jika DAK pendidikan dan Jamkesda hilang? Bisa jadi tahun depan, tergantung Bupati terpilih dalam pilkada 27 Juni besuk. Tapi bisa jadi baru tahun 2026 saat dana bagi hasil migas turun hingga di bawah 300 milyar rupiah. Di tahun 2026 nasip rakyat Bojonegoro akan tidak jauh beda seperi rakyat Kutai Kertanegara di Kaltim, dan rakyat di beberapa Kabupaten penghasil minyak dan batubara. Saat produksi puncak para pengusaha dan pejabatnya berpesta, rakyatnya kecipratan sedikit. Saat minyak dan batu bara habis, pengusahanya sudah ada yang hidup di kota besar, tapi ada juga yang jual asset jatuh bangkrut. Rakyat terutama wong kecilnyalah yang paling menderita saat itu biaya pendikan dan kesehatan harus ditanggung sendiri. Ternyata bukan soal berapa uang yang dimiliki, tapi soal kemana uang itu dialokasikan dan apa dampak masa depan yang ditimbulkan bagi rakyat inilah yang jauh lebih penting untuk dipikirkan.

Semua kengerian itu hanya bisa dihindari atau tepatnya kita hindari, jika skrenario dana abadi, atau tabungan abadi, atau apapun namanya bisa terwujud di Bojonegoro. Jangan belanjakan semua dana hasil migas. Dari hasil dana abadi itulah kelak, beasiswa pendidikan dan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) akan terus berlanjut. Sayangnya, sekali lagi sayangnya kenapa hanya Paslon nomor dua Mahfudhoh-Kuswiyanto (MK) yang konsisten akan memperjuangkan nasib wong cilik ini. Wong cilik ini bukan siapa siapa, tapi bisa jadi kita semua!

Akhirnya saya harus berterus terang, saya tidak punya pilihan lain dalam pilkada ini kecuali paslon nomor 2, MK. Saya bukan orang netral, saya akan perjuangkan MK, saya perjuangkan nasib saya sendiri, nasip wong cilik, nasib orang orang Bojonegoro yang bisa jatuh menjadi wong cilik.

Pilih nomor 2, MK, untuk masa depan kita semua!!!

Bagaimana dengan anda?

Penulis adalah rakyat kecil, tinggal di Dander.


Share :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Category: Berita UmumTags: