Perhatikan Perbedaan Batuk Biasa dan Batuk TBC

0 144
Share :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Batuk TBC dan Batuk Biasa

Batuk TBC dan Batuk Biasa

MediaBojonegoro.com

Batuk merupakan keluhan yang pasti pernah dialami setiap orang. Pada dasarnya, batuk adalah mekanisme fisiologis tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran pernapasan, misalnya debu atau lendir.Tetapi, Anda harus waspada ketika mengalami batuk secara terus-menerus selama beberapa minggu, bahkan dalam hitungan bulan. Bisa jadi batuk yang Anda alami ini bukanlah batuk biasa, melainkan batuk tuberkulosis (TBC).

Penyakit yang memiliki gejala khas berupa batuk kronik adalah TBC paru. Untuk membedakan batuk biasa dengan batuk TBC yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis ini bisa dibilang sulit. Yang bisa dijadikan sebagai tolok ukur adalah jangka waktu batuk. Jika batuk yang Anda alami lebih dari 3 minggu, sudah sepatutnya Anda curiga akan adanya kemungkinan TBC.

Batuk pada TBC selain bisa berlangsung lebih dari 3 minggu, biasanya juga disertai dahak dan darah. Selain itu, penderita juga dapat merasakan nyeri dada, sesak napas, keringat pada malam hari, badan lemah dan lesu, demam yang tidak terlalu tinggi, nafsu makan menurun yang mengakibatkan berat badan yang menyusut.

Walau tidak semua batuk kronik (batuk yang terjadi lebih dari 3 minggu) merupakan penyakit TBC, tapi anda tetap harus waspada dan segera memeriksakan diri ke dokter. Dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan dahak dan ronsen paru untuk menegakkan diagnosis  TBC. Semakin cepat TBC terdeteksi, maka pengobatan yang diberikan akan semakin efektif.

Selain TBC, beberapa penyakit dan penyebab di bawah ini juga menimbulkan batuk kronik:

1. Pertusis

Pertusis atau yang juga dikenal sebagai batuk rejan atau batuk seratus hari merupakan infeksi bakteri Bordetella pertussis pada paru-paru yang berbahaya dan mengancam nyawa. Batuk yang juga berlangsung terus-menerus ini memiliki ciri khas berbunyi keras dan diawali tarikan napas panjang lewat mulut.

2. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)

PPOK merupakan penyakit yang biasanya terjadi pada usia di atas 45 tahun, dan paling banyak menyerang pria dibandingkan wanita. Faktor risiko terjadinya penyakit ini adalah riwayat merokok dan paparan polusi udara. Pada penderita PPOK, terjadi produksi lendir di saluran napas yang cukup banyak, sehingga lendir inilah yang merangsang batuk terus-menerus.

3. Alergi atau asma

Alergi debu, polusi udara, dingin, serbuk sari, dan asap rokok dapat memicu timbulnya batuk yang berlangsung lama, bahkan sesak napas. Pada asma, keluhan ini dapat disertai sesak napas hebat dan mengi (bengek). Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kematian.

4. Obat-obatan

Salah satu obat yang dapat menyebabkan efek samping batuk terus-menerus adalah golongan ACEI inhibitor. Contoh obat-obatan ini adalah captopril yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah.

5. Bronkitis

Infeksi atau radang pada paru-paru juga dapat menyebabkan keluhan batuk terus-menerus. Selain batuk dan rasa sesak di dada, bronkitis juga menyebabkan demam, menggigil, sakit tenggorokan, dan gejala mirip flu. Gejala ini biasanya hilang dalam beberapa hari. Meski demikian, batuknya bisa bertahan selama berminggu-minggu.

6. GERD

Penyakit GERD adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan. Asam lambung yang naik ini dapat turun ke paru-paru dan menyebabkan refleks batuk.

Jika Anda mengalami batuk tidak biasa dan menemukan gejala-gejala lain yang disebutkan di atas, segera periksakan diri ke dokter karena bisa batuk yang Anda alami adalah batuk TBC atau batuk akibat kondisi atau penyakit lain. Diagnosis secara dini dapat membantu Anda mengobati penyakit secara tepat dan tuntas. (mdb/red)


Share :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Category: KesehatanTags: