PAWAI BUDAYA R – AKN BOJONEGORO, LABUH BEKTI ING KHAYANGAN API

Share :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MediaBojonegoro.com

Kemeriahaan hari jadi Kabupaten Bojonegoro tampak kemarin minggu (9/10/16). Acara pawai budaya atau masyarakat lebih sering menyebut karnaval yang dilaksanakan mulai jam 10.30 sampai 19.30, dipadati dengan penuh sesak sepanjang jalan yang dilalui, turut hadir salah satu peserta pawai budaya yang sangat kreatif dari R AKN Bojonegoro.

Rute yang dilalui mulai start dari Jl. Mastumapel (depan pendopo) – Jl. Mastrip – Jl. MH. Thamrin – Jl. Pangsud – Jl. Teuku Umar – Jl. WR. Supratman – Jl. Rajawali – Jl. Imam Bonjol (finish). Walaupun diguyur hujan tampak peserta pawai budaya tetap semangat dan guyub sampai finish.

Andi Setiawan, dosen pendamping mahasiswa menjelaskan bahwa peserta pawai budaya dari R AKN Bojonegoro mulai berlatih sejak satu minggu sebelum kegiatan dimulai, ide kreatif muncul dari kalangan mahasiswa sendiri, sebagai pelatih tim penari juga dari kalangan mahasiswa sendiri yang dikoordiner oleh HMJ di lingkup R AKN Bojonegoro.

Yudi Pramono, sebagai Ketua PDD Polinema R AKN Bojonegoro bersyukur dan berterimakasih kepada seluruh elemen mahasiswa, staf dan dosen yang terlibat pada pawai budaya tersebut, khususnya kepada tim kreator dan Griya Paes Ayu sebagai tim rias dan tata busana sehingga tim pawai budaya R AKN Bojonegoro memperoleh juara harapan 3 untuk tingkat umum.

Berikut narasi yang dibawakan oleh tim pawai budaya R AKN Bojonegoro :

LABUH BEKTI ING KHAYANGAN API

Keberadaan khayangan api tempat bersemayam empu Kriyo Kusumo atau Empu Supagati atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pandhe tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan Majapahit.

Diceritakan pada saat Kerajaan Majapahit goncangan pemberontakan oleh Rakuti yang berlangsung tahun 1319. Tiga tahun setelah perang Lumajang Rakuti berhasil menduduki istana, tetapi Prabu Jayanegara berhasil lolos, dalam situasi yang demikian kritis, Prabu Jayanegara berhasil diselamatkan oleh seorang Bekel Bhayangkara (Pegawai Raja) Bernama Gajah Mada beserta 15 bawahannya, Gajah Mada mengungsikan sang Prabu ke desa Bedander.

Di wilayah bedander pasukan Bhayangkara menyusun kekuatan untuk merebut kembali tahta kerajaan Majapahit dari tangan Rakuti dengan dibantu warga sekitar yang telah dilatih untuk menjadi prajurit tangguh, serta suplai persenjataan yang dibuat oleh Empu Supagati di Khayangan Api Bedander.

Akhirnya prajurit Bhayangkara yang dipimpin Gajah Mada berhasil merebut kembali tahta Majapahit dan Prabu Jayanegara kembali menduduki singgasana kerajaan.

Sebagai rasa terimakasih, Prabu Jayanegara mengangkat Empu Supagati atau Mbah Pandhe sebagai Empu Istana dengan nama Kriyo Kusumo dan Khayangan api dijadikan sebagai tanah perdikan yang bebas dari pajak.


Share :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Category: EntertainmentTags: